Tampilkan postingan dengan label jurnalisme. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label jurnalisme. Tampilkan semua postingan

Jumat, 25 Mei 2012

Sembilan Prinsip Peliputan dan Penulisan Berita Kriminal


Meliput dan menulis berita kriminal sebenarnya tak jauh beda dengan meliput dan menulis berita lainnya. Namun, ada sembilan prinsip dasar yang sebaiknya diketahui oleh wartawan peliput kasus-kasus kriminal. Prinsip-prinsip ini bersifat penuh dan mengikat. 

Berikut sembilan prinsip yang dimaksud.

Berita kriminal adalah laporan terkini yang disiarkan kepada publik terkait peristiwa-peristiwa kejahatan yang dilakukan oleh seseorang, sekelompok orang, atau sebuah organisasi. 

Sebuah peristiwa disebut peristiwa kriminal jika memenuhi tiga unsur utama, yakni pelaku, tindak kriminal, dan adanya korban. Unsur lainnya yakni keberadaan saksi, tempat kejadian perkara, barang bukti, dan modus operandi.

Pelaku, korban, dan saksi, adalah nara sumber utama dalam sebuah berita kriminal. Namun, dalam kasus kriminal dikenal pula nara sumber lain yang disebut sebagai nara sumber resmi yang data, informasi, maupun statement yang dikeluarkannya merupakan data, informasi, dan statement resmi yang dinyatakan benar secara hukum dan boleh dikutip untuk disiarkan.

Termasuk dalam katagori nara sumber resmi adalah lembaga penegakan hukum seperti kepolisian dan peradilan, pihak rumah sakit, organisasi, lembaga atau instansi terkait jika kasusnya melibatkan sakit, organisasi, lembaga atau instansi, serta pengacara dari kedua belah pihak yang berbicara atas nama pelaku atau korban. Kerap juga dimasukkan ke dalam nara sumber resmi adalah pernyataan pihak keluarga baik itu keluarga pelaku atau korban.

Untuk dapat meliput dan menulis sebuah berita kriminal dengan baik, adalah wajib bagi seorang wartawan untuk memiliki pengetahuan yang memadai tentang hukum, terutama terkait dengan peristiwa yang sedang ditanganinya.

Wartawan juga harus memiliki pengetahuan yang cukup tentang berbagai aturan hukum terkait apa yang boleh dan tidak boleh dipublikasikan, termasuk beragam istilah atau bahasa hukum dan peradilan seperti apa itu tersangka, apa itu terdakwa, apa yang dimaksud dengan terlapor, apa yang dimaksud dengan pledoi, dakwaan, juncto, dan sebagainya. 

Ini semua adalah pengetahuan wajib yang menjadi prinsip dasar liputan dan penulisan berita kriminal dan pengadilan. Sebab, apa pun output-nya, adalah haram mencederai peluang pihak mana pun untuk mendapat peradilan yang fair dan dan tak memihak, baik sengaja atau pun tak sengaja. Bagi wartawan dan media massa, kewajiban ini bersifat penuh dan mengikat. 

Akurasi, adalah hal mendasar lainnya yang harus diperhatikan oleh seorang wartawan yang meliput dan menulis berita kriminal. Sajikan fakta secara tepat tanpa menambah atau menguranginya. 

Memutuskan meliput dan menulis sebuah kasus kriminal berarti memutuskan untuk mengikuti dan melaporkan kasus itu hingga selesai. Jadi, sebelum menyentuh sebuah kasus, pertimbangkan benar apakah sebuah kasus layak untuk Anda liput dan Anda siarkan. Jika sebuah kasus tidak ada hal yang menariknya bagi publik Anda, sebaiknya tidak menyentuhnya sama sekali karena saat Anda melaporkannya, Anda wajib melaporkannya hingga akhir.

Minggu, 20 Mei 2012

Menulis Berita Kriminal, Sedikit yang Menarik?


Ilustrasi; Sumber Ist
Bergantian, para mahasiswa mata kuliah penulisan berita, Sabtu (19 November 2011) mengoreksi naskah berita kriminal karya (tugas) teman sendiri. Hasilnya, hanya empat berita yang menurut mereka menarik.

Total naskah berita yang masuk ada 31. Itu berarti 12 mahasiswa tidak mengerjakan tugas, karena jumlah mahasiswa kelas penulisan berita ada 43 orang.

Seperti biasa, sebelum mengumpulkan tugas, para mahasiswa saya minta agar membaca dulu secara bergantian naskah berita yang ditulis teman-temannya.

"Tempatkan diri Anda sebagai pembaca surat kabar. Adakah berita karya teman Anda yang memiliki nilai tinggi?" saya bertanya.

Tidak ada yang angkat tangan. Pertanyaan yang sama saya ulang. Dua mahasiswa lalu angkat tangan.

"Adakah berita kriminal yang Anda baca, penting untuk banyak orang, termasuk Anda?" kembali saya bertanya. Setelah pertanyaan itu saya ulang, dua mahasiswa angkat tangan.

"Adakah di antara Anda yang merasa puas setelah membaca berita-berita yang ditulis teman Anda?" saya lagi bertanya. Hanya dua mahasiswa yang angkat tangan.

"Sekarang perhatikan judul berita yang ditulis teman-teman Anda, apakah ada yang menarik?" tanya saya. Tidak ada yang angkat tangan.

Pertanyaan yang sama saya ulang. Saya tunggu beberapa detik, tak juga ada mahasiswa yang angkat tangan. Kesimpulannya, tak satu pun judul berita yang mereka tulis menarik.

Setelah saya membaca karya para mahasiswa, judul berita yang mereka tulis memang tidak menarik dan terkesan asal tulis, yang penting berjudul, seperti ini:

1. Kriminalitas Penghipnotisan Sepeda Motor
(Komentar dosen: Sepeda motor memang bisa dihipnotis? Judul ini akan lebih pas jika diganti menjadi: Pengemudi Sepeda Motor Dihipnotis).

2. Penganiayaan Kepada Ketua RT
(Komentar dosen: Waduh, penganiayaan ini "barang" apa sih, kok bisa dikirim/diberikan kepada Pak RT? Akan lebih afdol jika judul itu diubah menjadi seperti ini: Ketua RT Dianiaya).

3. Beratnya Kebutuhan Hidup Mendasari Tindakan Pencurian
(Komentar dosen: Serius sekali ini mahasiswa, membuat judul berita mirip tema kuliah subuh. Mungkin maksudnya seperti ini: Butuh Hidup Nekat Mencuri).

4. Perampokan Gagal Luka Tembak Bersarang
(Komentar dosen: Luka tembak memang bisa bersarang? Yang bersarang itu luka tembak atau peluru. Judul ini akan lebih pas jika diganti seperti ini: Gagal Merampok, Pelaku Tembak Korban atau Ditembak setelah Gagalkan Aksi Perampokan).

Sebenarnya ada beberapa mahasiswa yang menulis judul berita cukup menarik, seperti ini:

1. Kebutuhan Mendesak, Kejahatan Bertindak
2. Cucak Ijo Hilang (berita tentang warga Bekasi yang kehilangan burung cucak ijo seharga Rp 2,5 juta).
3. Polisi Bekuk Calo PNS
4. Tersangka Pembunuhan Ternyata Mantan Atlet
5. Tukang Ojek Dibius, Motor Raib

Sayang memang, hampir semua mahasiswa masih mengalami kesulitan dalam menuangkan fakta (peristiwa) ke dalam naskah berita. Mahasiswa yang menulis judul berita Tukang Ojek Dibius, Motor Raib, menulis lead beritanya seperti ini: Seorang tukang ojek terkapar di pinggir emperan ruko, diduga ia habis terkena bius oleh penumpang yang habis ia antar.

Lead di atas akan lebih enak dibaca jika ditulis seperti ini: Seorang pengojek, diduga korban pembiusan, ditemukan terkapar di emperan sebuah ruko di kawasan Tebet, Jakarta Selatan, Selasa (15/11).

Penulis berita "Tersangka Pembunuhan Ternyata Mantan Atlet" juga kurang mahir menulis lead yang ditulis seperti ini: Senin, 14 November 2011, DTP (18), tersangka pembunuhan yang menewaskan seorang Manajer PT. AG. Sukses Mandiri, Novi (28) pertengahan bulan Juni lalu akhirnya tertangkap kemarin setelah menjadi buronan jajaran Polresta Depok selama lima bulan.

Lebih bagus jika lead di atas ditulis seperti ini: Polisi Depok, Senin (14/11) akhirnya menangkap DTP (18) setelah tersangka pembunuh Novi, manajer PT AG Sukses Mandiri ini buron lima bulan.

Mahasiswa yang menulis berita "Polisi Bekuk Calo PNS" pun tidak kreatif dalam menulis lead padahal di dalam lead ada unsur menarik (nama pelaku Muslihat). Lead ditulis seperti ini: Kepolisian Sektor Pancoran Mas, Depok, membekuk seorang tersangka yang diduga sebagai pelaku penipuan. Tersangka bernama Muslihat alias Jhoni bin Hasbullah (50) diduga menipu korban untuk masuk menjadi menjadi pegawai negeri sipil (PNS) di Pemerintah Kabupaten Bogor.

Catatan dosen: Ada logika yang menganggu. Perhatikan kalimat kedua lead. Siapa yang akan masuk menjadi PNS? Membaca kalimat di atas, yang akan masuk menjadi PNS adalah Muslihat alias Jhoni. Bagaimana supaya Muslihat bisa jadi PNS? Membaca kalimat di atas, jawabnya adalah dengan cara menipu korban.

Lead di atas akan lebih masuk akal jika ditulis seperti ini: Polisi Pancoran Mas Depok membekuk Muslihat yang diduga melakukan tipu muslihat calon pegawai negeri sipil (PNS) yang melamar ke Pemerintah Kabupaten Bogor.

Sebagian besar mahasiswa memang belum mahir menulis berita. Tapi tak apalah. Saya tetap memberikan apresiasi, sebab sebagian besar di antara mereka benar-benar melakukan liputan di lapangan disertai dengan bukti. Ada mahasiswa yang berfoto bersama dengan nara sumber (Pak Polisi) dan korban, melampirkan fotokopi KTP korban dan fotokopi surat tanda penerimaan laporan/pengaduan.

Halo para mahasiswa, teruslah berlatih. Jangan menangis atau meringis jika dosen memberikan nilai jeblok. Jadikan nilai itu sebagai pemicu untuk menjadi mahasiswa profesional. Pasti bisa.

Sumber; Write Now

Sabtu, 05 Mei 2012

Blog, Jurnalisme dan Prosumsi


Maraknya blog adalah maraknya kecenderungan “prosumsi”. Istilah prosumsi diperkenalkan Alvin Tofler melalui “Future Shock” yang terbit pada 1970-an. Prosumsi = produksi dan konsumsi. Kemajuan teknologi, seperti internet, memungkinkan setiap orang menjadi produsen dan konsumen informasi sekaligus.

Blog memang merupakan sparing-partner menarik bagi jurnalisme konvensional. Banyak orang, terutama di Amerika, makin kehilangan kepercayaan pada media-media mainstream (televisi dan bahkan koran)–jumlah pemirsa dan pembaca koran terus turun dari tahun ke tahun. Media mainstream kian jatuh pamornya karena makin sarat berita negatif, gosip, kriminalitas, dan infotainmen. Fox TV adalah personalitas negative-journalism yang ekstrem, tapi citra seperti itu bahkan kini menghinggapi jaringan utama seperti CNN, ABC dan CBS (lihat bagaimana mereka memberitakan perang di Irak).

Orang beralih ke media lain. Orang mulai menggagas media alternatif untuk mencari substansi yang tidak diliput media. Atau menggagas civic-journalism. Atau mencari blog berisi opini dan perspektif alternatif.

Di masa depan, blog tidak hanya akan berisi jurnalisme single-source atau sekadar opini. Jurnalisme dengan standar yang bagus bisa muncul dari sini, lebih bagus dari media konvensional. Blog memudahkan wartawan “menerbitkan” karya jurnalistiknya tanpa saluran konvensional (mencetak dan menyiarkan).

Tapi, bagus atau tidak, kredibel atau tidak, karya jurnalisme dalam sebuah blog akan teruji oleh waktu, dan dinilai berdasar standar jurnalistik yang lazim. Jurnalisme adalah jurnalisme. Dan blog hanya medium. Tapi, mungkin kata-kata Marshall McLuhan berlaku di sini: “medium is the message”. Blog adalah medium yang mengubah kebiasaan membaca dan menulis, mengirim dan menerima informasi.

Disunting dari tulisan Farid Gaban, diposting semata-mata untuk pendidikan.

Selasa, 17 April 2012

Kenapa Harus Menulis "?"



Ilustrasi; Menulis
Blogging, jaringan sosial, dan jurnal telah menciptakan jutaan penulis produktif. Menulis membuat Anda berinteraksi dengan orang, masyarakat, pekerjaan, dan yang paling penting untuk diri Anda sendiri. Menulis itu membuat jiwa-raga Anda sehat.

Inilah alasan-alasan yang membuat menulis merupakan kebiasaan yang sehat (healthy habit):

Menulis membantu Anda membuat keputusan. Membuat daftar pro dan kontra memungkinkan Anda melihat konsekuensi pilihan Anda lebih jelas.
Menulis menghemat waktu dan memori. Menuliskan catatan pada selembar kertas akan menjadikan Anda dapat  menghemat waktu berjam-jam yang mungkin bisa Anda habiskan ketika mencoba mengingat sesuatu.

Menulis menghapus “galau”. Menuangkan emosi Anda pada kertas (menuliskan kegalauan) bisa mencerahkan hati yang berat. Dengan menulis kita bisa berbagi. Manusia adalah makhluk sosial. Dengan demikian, berbagi emosi, opini, dan cerita itu penting untuk menjalin hubungan sosial. Istilah “history” (sejarah) berasal dari  kata  “his” dan “story” (ceritanya/katanya). Mungkin suatu hari nanti akan disebut “herstory”.

Menulis menciptakan hidup Anda. Dengan menuliskan afirmasi (pernyataan, sugesti pribadi) positif, mempraktikkan dan mempercayainya, Anda membawa lebih banyak hal positif dalam hidup Anda.
Menulis membuat Anda tenang. Jika Anda marah kepada seseorang, tuliskan dulu amarah Anda. Lalu putuskan pendekatan apa yang akan diambil.

Menulis adalah sebuah pengalih perhatian yang sangat baik. Ketika kehidupan menjadi sulit, menulis kreatif memungkinkan Anda untuk “melarikan diri” ke sebuah dunia fantasi dan menyenangkan.
Menulis itu membantu orang lain. Sebuah kata, kalimat, atau cerita bisa mengubah hidup orang lain menjadi lebih baik.

Kita sudah paham betapa banyak manfaat menulis. So… Just Write! Nulis ahhh….! Go Blogging!

Akhirulkalam, harap maklum ye, kalo bahasa postingan ini dirasa agak “kacau”. Soale postingan terjemahan bebas dari artikel “Writing is a healthy” by Debbie Gisonni di examiner.com. Wasalam.

Tulisan ini juga diposting di Romeltea Magazine

Senin, 16 April 2012

Menunggu Media Massa dan Kaum Aktivis Pergerakan Bersikap Tegas


#Catatan kritis untuk kaum pragmatis
Ilustrasi
Ternyata Media massa dan kaum aktivis pergerakan mempunyai sudut pandang dan sikap yang berbeda dengan masyarakat kebanyakan dalam merespon perkembangan yang tejadi disekitarnya. Cara pandang media massa, dalam koreksi terhadap penguasa, cenderung dibangun dengan prinsip dan kepentingan yang melekat pada dirinya. Hal yang serupa juga tidak berbeda dengan kaum aktivis pergerakan.

Watak media massa saat ini

Umumnya prinsip yang dianut media massa lebih mengutamakan tujuan industrinya sebagai jaminan untuk berkembang dan tetap survive. Tidak peduli dengan suara kritis yang berkembang disekitarnya. Bagi mereka yang terpenting bagaimana dapat mengais keuntungan sebesar-besarnya dan memperluas jaringan bisnisnya ke berbagai bidang.

Pilihan ini terkadang menyebabkan daya kritis media menjadi melemah, kabur, tidak tegas dan bahkan secara terang-terangan tampil sebagai humas penguasa dan penyalur kepentingan syahwat pengusaha besar. Watak ini, maaf, juga berlaku di bumi Borneo.

Bagaimana dengan sikap kaum aktivis pergerakan?

Kalangan aktivis pergerakan, khususnya pasca tumbangnya rezim Soeharto, terpecah-pecah dan beradaptasi dengan ragam kepentingan kelompoknya masing-masing. Sebagian besar aktivis tersebut kembali dan menjalani kehidupannya secara normal, tidak ikut mengawal perubahan. Namun, sebagian dari mereka memilih tetap konsisten dan terus berinteraksi dengan dinamika di lapangan.

Singkatnya, kalangan aktivis yang terpecah-pecah itu, secara alamiah mulai terkonsolidasi dalam beberapa isu nasional. Pemicunya tidak lain adalah, kasus dugaan pelanggaran pemilu (Pileg-Pilpres), kasus Century, Kenaikan BBM dan beberapa kasus lainnya. Menariknya, konsolidasi para aktivis tersebut, kini terfokus dan berakumulasi pada koreksi serius atas kegagalan agenda reformasi dan secara terang-terangan menegaskan bahwa posisi SBY sebagai titik fokus dimaksud.

Arah gerakan para aktivis ini, seolah mengisyaratkan kepada kita tentang adanya proses pengulangan sejarah reformasi yang pernah terjadi pada tahun 1998. Kondisi ini dapat dilihat dari maraknya aksi-aksi yang makin meluas dan mulai bergelombong menuju pusat-pusat kekuasaan. Sementara dalam waktu yang sama, elit penguasa terlihat panik dan semakin kehilangan legitimasi di mata publik.
Ilustrasi

Pertanyaannya saat ini, kapan kaum aktivis pergerakan dan media massa menentukan sikap, Apakah masih akan tetap asyik dengan ego dan kepentingan pragmatisnya, atau bangkit secara bersama-sama untuk menyelamatkan NKRI. Apakah hal itu dimungkinkan?

Minggu, 15 April 2012

Resensi Buku, Psikologi Sastra: Karya, Metode, Teori, dan Contoh Kasus


Sebuah karya sastra merupakan kisahan yang senantiasa bergumul dengan para tokoh fiksional yang diciptakan oleh si pengarang. Agar ceritera lebih menarik, si pengarang kerap kali menampilkan perilaku para tokoh dengan kepribadian yang tidak lazim, aneh, atau abnormal, sehingga menimbulkan berbagai perasaan bagi para pembaca. Tidak jarang para pembaca bertanya-tanya, mengapa si tokoh berperilaku demikian, apa yang terjadi pada dirinya, apa penyebabnya, dan apa pula akibat dari semua ini. Bahwasanya masalah perilaku mungkin saja terkait dengan masalah kejiwaan, maka kisahan semacam ini dapat merupakan masalah psikologis.

Oleh karena itu, dalam buku yang merupakan hasil penelitian tentang karya-karya sastra Inggris dan Amerika yang bermutu ini, penulis menampilkan beberapa kasus para tokoh fiksional yang mencerminkan konsep-konsep yang terdapat dalam Psikologi Sastra. Para tokoh dimaksud terdapat dalam karya-karya sastra Inggris dan Amerika ciptaan Nathaniel Hawthorne, Eugene O'Neil, Theodore Dreiser, dan D.H. Lawrence. dalam buku ini dibahas pula para tokoh yang mencerminkan beberapa konsep yang terdapat dalam Psikologi Sastra, misalnya konsep-konsep: Oedipus Complex, Electra Complex, Naluri Kematian, rasa Bersalah, Agresivitas, Halusinasi, Konflik Batin, rasa Malu, dan sebagainya. Selain itu, dibahas pula pencerminan Teori Kebutuhan Bertingkat dari Abraham Maslow yang mencakup kebutuhan fisiologis, rasa aman, rasa memiliki dan dicintai, rasa harga diri, dan aktualisasi diri.

Selama ini telaah karya sastra melalui pendekatan Psikologi Sastra sering diperdebatkan karena kerap kali hakikat sastra menjadi hilang, telaah sastra seakan-akan menjadi telaah Psikologi. Oleh karena itu, agar telaah sastra psikologis tidak meninggalkan hakikat analisis suatu karya sastra, maka pencerminan berbagai konsep psikologi di atas perlu disampaikan melalui metode perwatakan yang biasa digunakan dalam telaah sastra. Metode-metode tersebut misalnya, telling (langsung), showing (tidak langsung), gaya bahasa bahasa (figurative language): simile, matafor, personifikasi, , dan sudut pandang (point of view).

Pembahasan dalam buku ini dapat dijadikan bahan acuan bagi para peneliti, karena paparannya cukup jelas dan terperinci, sehingga buku ini akan bermanfaat bagi para peneliti yang berminat menganalisis suatu karya sastra dalam bahasa apapun.

Penulis             :        Albertine Minderop
ISBN         :        978-979-461-759-5
Dimensi         : 14,5 x 21 cm
Jenis Cover : soft cover
Berat Buku : 310
Jenis Kertas : Book Paper

Selasa, 10 April 2012

Teknik Menganalisis Berita


Ilustrasi
Metode utama yang digunakan dalam menganalisis berita adalah analisis isi. Metode analisis isi terdiri atas dua jenis, yaitu analisis isi kuantitatif dan analisis isi kualitatif. Analisis isi kuantitatif akan melahirkan data kuantitatif dan karenanya tidak akan mencerminkan jawaban yang komprehensif terhadap pertanyaan-pertanyaan yang diajukan. Itulah sebabnya analisis isi kuantitatif perlu diikuti analisis isi kualitatif.

Analisis isi kuantitatif, seperti disebut Richard W. Budd, dkk, adalah metode yang sistematik untuk menganalisis pesan dan bagaimana pesan disampaikan (1967:2). Dengan kata lain, analisis isi hanya bisa menjawab dua pertanyaan: apa ciri-ciri pesan yang tertulis dan bagaimana pesan yang disampaikan.
Pertanyaan di luar kedua itu tidak bisa dijawab oleh metode analisis isi. Tetapi, dalam modul ini kita tidak akan membicarakan analisis isi seperti yang diisyaratkan oleh Richard W. Budd dkk di atas. Kita akan menganalisis berita sesuai dengan kepentingan penulisan berita. Ini penting dilakukan mengingat pengetahuan tentang anatomi berita akan memberikan inspirasi bagi calon penulis berita tentang berita seperti apa yang akan ditulisnya.

Secara teoritis, bagaimana para wartawan merefleksikan realitas sosial yang diamatinya bisa dilihat melalui berita-berita yang mereka siarkan. Untuk menganalisis berita tersebut, yang perlu diperhatikan adalah: 1. fisik berita, yang terdiri dari posisi, layout, dan panjang berita; 2. Teknis berita, yang terdiri dari lingkup, tipe, dan fokus berita; 3. Struktur berita, yang terdiri dari judul, lead, dan tubuh berita; dan 4. Kecenderungan isi berita, yang terdiri dari nilai berita, narasumber, kelengkapan, kedalaman, dan aktor yang terlibat (adaptasi dari Siregar 1991:5). Bila diskemakan, kerangka analisis berita tersebut di atas menjadi:

Teknik Menulis Berita Langsung
1.                  1. Pengertian berita langsung
Berita langsung adalah berita yang dibuat untuk menyampaikan peristiwa-peristiwa yang secepatnya harus diketahui khalayak. Karena itu, penulisnya mengikuti struktur piramida terbalik, dengan bagian yang terpenting pada pembukaan berita (LP3Y 1990:1).

2. Pembukaan berita langsung
Sesuai dengan pengertian dan struktur berita langsung, maka hal yang perlu diyakinkan ketika menulis berita langsung adalah menulis unsur nilai berita yang paling kuat dalam lead. Berita tentang kedatangan Lady Di untuk berlibur di Lombok, bisa dimulai dengan lead: Lady Di, setelah pisah ranjang dengan Pangeran Charles, secara diam-diam berada di Lombok untuk berlibur. Kedatangannya yang ditemani........

3. Tubuh berita langsung
(Unsur penting dalam berita ini adalah seorang yang sangat terkenal di Indonesia dan dekat dengan khalayak dalam pengertian emosional). Untuk memudahkan penulisan lead, perlu diungkapkan syarat sebuah lead, yaitu:
a. Panjangnya sekitar 30-40 kata.
b. Tidak diawali dengan kata penghubung.
c. Tidak menggunakan kalimat pasif.
d. Menjawab pertanyaan dua atau tiga unsur dari Apa, Siapa, Mengapa, Dimana, Kapan, dan Bagaimana.
e. Tidak lebih dari satu alinea.
f. Menjawab rasa ingin tahu khalayak.

Dengan keenam persyaratan ini bisa ditulis lead, yang bervariasi, seperti:
a.       Lead bersyarat, yang ditandai oleh kata jika. Misalnya:
Jika mobil yang dikendarai si Ucok tidak mengebut, tentu di Ucok bisa menghidari kecelakaan itu...............................................................................................................

b.      Lead kondisional, yang ditandai oleh kata walaupun. Contoh:
Walaupun jeritan itu tidak keluar dari mulut korban, si perampok urung membunuhnya...............................................................................................................
c. Lead kausal, yaitu lead sebab-akibat, yang ditandai oleh kata sebab atau karena. Misalnya:
Karena tidak ada jalan lain, Tigar terpaksa merampok sebuah bank di bulan Juli silam.............................................................................................................................
d. Lead waktu, yaitu lead yang menekankan dimensi waktu, yang biasanya ditandai oleh kata sesudah atau sebelum. Seperti: Setelah bermain organ non stop 24 jam, Agung menjadi pria terkenal dan disenangi para gadis.....................................................................................................................
e. Lead bertanya, yang dimulai dengan kalimat tanya. Misalnya:
Adakah di antara pembaca yang tidak kenl dengan Michael Jackson?......................

4. Penutup berita langsung
Setelah mendapatkan lead yang menarik, barulah disusul dengan body, yang merupakan kelengkapan berita. Seluruh berita disampaikan paragraf demi paragraf dari keseluruhan fakta, yang merupakan jawaban dari enam pertanyaan pokok jurnalistik.
Sebagai cotoh, saya kutipkan berita yang disiarkan harian Bernas, Yogyakarta, 16 Agustus 1994 berikut: